Wednesday, July 1, 2015

Jodoh di tangan Tuhan







"Jodoh, rezeki, maut di tangan Tuhan" sepertinya benar adanya. Diusiaku yang saat ini sudah mendekati 30, entah sudah berapa banyak pria yang sempat dekat, akrab, pacaran, bahkan orangtua sudah saling bertemu. Tapi memang kalau tidak jodoh ya mau bilang apa?

Meskipun sejak awal semua sudah diniatkan untuk serius tetap saja kandas. Bahkan yang sudah 6 tahun pun tidak cukup kuat membuatku bertahan sampai ke pernikahan. Akulah yang paling bertanggung jawab atas berakhirnya hubungan-hubunganku sebelumnya. Meskipun pemicunya bukan aku, tapi aku yang selalu mengambil keputusan untuk mengakhiri. Entah karena sudah kehilangan "rasa", perilaku ex yang temperamental, tidak melihat keseriusan si doi dan lain-lain. Semua hal-hal diatas memaksaku untuk bersikap tegas dan berhenti "membuang waktu".

Aku bukan tipikal wanita yang takut tidak menikah, ketika semua teman sebaya panik karena sudah mendekati 30 dan belum menikah. Aku justru menikmati setiap detik yang kuhabiskan dalam proses pencarian Mr.Right. Belum lagi karena ajaran agamaku menganut pernikahan 1x seumur hidup, aku tidak mau menyesal karena telah salah memilih. Aku tidak mau menikah karena dikejar-kejar usia, tidak juga karena paksaan orangtua atau menghindari omongan orang. Aku mau menikah hanya jika aku telah menemukan dia yang dapat membuatku yakin untuk menghabiskan sisa hidupku dengannya. Persetan omongan orang diluar sana. Jika aku menikah dan tidak bahagia, apakah mereka akan ikut bertanggung jawab?

Sebetulnya orangtuaku sempat ikut-ikutan panik dengan kondisiku, dan beberapa kali terbawa dengan omongan orang. Tapi terakhir kali aku ingat betul apa yang aku ucapkan kepada mama karena terus memaksaku. "Ma, aku tidak peduli berapa banyak orang di luar sana yang membicarakan aku, selama keluarga ini mengerti kondisiku aku akan baik-baik saja. Kalianlah yang paling tahu seberapa keras aku berusaha, so please berhenti memaksaku seperti orang lain yang tidak mengenalku", aku ingat aku hampir menangis ketika mengatakannya. Setelah hari itu mama sudah tidak pernah lagi menanyakan hal yang sama. Aku kembali ke diriku yang tidak suka dipaksa dan memilih untuk menentukan jalan hidupku sendiri.

Sebentar lagi aku akan merayakan 1 tahun hubunganku dengan dia yang telah membuatku berfikir that he is the one. Tapi again jodoh di tangan Tuhan. Aku yang berusaha, biar Tuhan yang mengantarkanku ke pelaminan dengan siapapun yg dianggap-Nya baik.
So mohon doanya ya guys...

No comments:

Post a Comment