My extraordinary love
Apa sih tantangan terbesar kalian ketika memiliki pacar? Si dia egois? Kurang pengertian? Orangtuanya ga setuju? Atau ada ga yang lebih menantang selain menjalin hubungan beda agama dengan dia yang telah memiliki 2 orang anak dan berpotensi tidak direstui orangtua?
Hahaha (sebentar aku ketawa dulu) yup that's my relationship. Just info guys aku wanita single dengan latar belakang agama yang cukup kuat yang anti dengan perceraian. Tapi apalah daya cinta menyapa meskipun kondisi mendekati perang dunia.
Perkenalan dengan si dia sangat berkesan, aku ingat betul saat pertama kali kita janjian di salah satu coffee shop di mall yang terletak di jakarta selatan. Dia menggunakan sport outfit dengan bentuk tubuh atletis dan menggenggam sebuah buku. See, dia suka olahraga dan terlihat pintar, benar-benar tipe aku banget. Sejak awal dia sudah sangat menarik perhatian, belum lagi dia sangat ramah. Dan yang paling menyenangkan adalah karena dia selalu tertawa mendengar jokes yang aku sampaikan.
He is so gentle, kita berdua menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngobrol. Pertemuan perdana ini berjalan sangat lancar dan setelahnya dia mengantarkanku pulang.
Dari pertemuan ini aku mengetahui kalau dia 12 tahun diatasku (meskipun wajahnya terlihat jauh lebih muda), dia duda, dia memiliki 2 orang anak, dan dia berbeda agama dariku. Hal-hal lainnya telah membutakan mataku akan 4 point "mengagetkan" diatas. Menghabiskan waktu dengannya sungguh-sungguh menyenangkan,
tak lama setelah pertemuan itu kami memutuskan jadian.
Beberapa bulan pertama aku sengaja menyembunyikan hubungan ini dari orangtuaku, sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk membawanya kerumah untuk bertemu orangtuaku. Setelahnya aku dicecar banyak pertanyaan terutama mengenai perbedaan agama kami. Tapi aku berhasil meyakinkan mereka bahwa kami berdua telah sepakat untuk tidak "tarik-menarik". Meskipun berat, aku menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membuat mereka tenang akan hubungan ini.
Tapi ada hal yang sampai dengan saat ini belum aku sampaikan yaitu dia duda dan telah memiliki 2 anak. Sejak awal aku sengaja menyembunyikannya karena aku mau mereka menilai pasanganku murni karena sifat dan kepribadiannya. Tapi tak terasa saat ini hubungan kami sudah berjalan hampir 1 tahun dan mereka masih belum mengetahuinya.
Minggu ini aku, pasangan dan orangtuaku berencana makan malam diluar. Saat itu aku akan mengatakannya kepada mereka. Aku sengaja memilih diluar rumah karena untuk menghindari respon berlebihan dari kedua orangtuaku ketika mendengar yg kami sampaikan.
Entah apa yang akan terjadi nanti. Tapi yang jelas mereka harus tahu betapa aku sangat mencintai pria ini dan bersedia menerima dia satu paket dengan masa lalunya. Yaaaa semoga saja semua berjalan lancar dan kedua orangtuaku dapat menerima hal ini. Wish me luck ya...
Every Little Things in Life
Wednesday, July 1, 2015
Jodoh di tangan Tuhan
"Jodoh, rezeki, maut di tangan Tuhan" sepertinya benar adanya. Diusiaku yang saat ini sudah mendekati 30, entah sudah berapa banyak pria yang sempat dekat, akrab, pacaran, bahkan orangtua sudah saling bertemu. Tapi memang kalau tidak jodoh ya mau bilang apa?
Meskipun sejak awal semua sudah diniatkan untuk serius tetap saja kandas. Bahkan yang sudah 6 tahun pun tidak cukup kuat membuatku bertahan sampai ke pernikahan. Akulah yang paling bertanggung jawab atas berakhirnya hubungan-hubunganku sebelumnya. Meskipun pemicunya bukan aku, tapi aku yang selalu mengambil keputusan untuk mengakhiri. Entah karena sudah kehilangan "rasa", perilaku ex yang temperamental, tidak melihat keseriusan si doi dan lain-lain. Semua hal-hal diatas memaksaku untuk bersikap tegas dan berhenti "membuang waktu".
Aku bukan tipikal wanita yang takut tidak menikah, ketika semua teman sebaya panik karena sudah mendekati 30 dan belum menikah. Aku justru menikmati setiap detik yang kuhabiskan dalam proses pencarian Mr.Right. Belum lagi karena ajaran agamaku menganut pernikahan 1x seumur hidup, aku tidak mau menyesal karena telah salah memilih. Aku tidak mau menikah karena dikejar-kejar usia, tidak juga karena paksaan orangtua atau menghindari omongan orang. Aku mau menikah hanya jika aku telah menemukan dia yang dapat membuatku yakin untuk menghabiskan sisa hidupku dengannya. Persetan omongan orang diluar sana. Jika aku menikah dan tidak bahagia, apakah mereka akan ikut bertanggung jawab?
Sebetulnya orangtuaku sempat ikut-ikutan panik dengan kondisiku, dan beberapa kali terbawa dengan omongan orang. Tapi terakhir kali aku ingat betul apa yang aku ucapkan kepada mama karena terus memaksaku. "Ma, aku tidak peduli berapa banyak orang di luar sana yang membicarakan aku, selama keluarga ini mengerti kondisiku aku akan baik-baik saja. Kalianlah yang paling tahu seberapa keras aku berusaha, so please berhenti memaksaku seperti orang lain yang tidak mengenalku", aku ingat aku hampir menangis ketika mengatakannya. Setelah hari itu mama sudah tidak pernah lagi menanyakan hal yang sama. Aku kembali ke diriku yang tidak suka dipaksa dan memilih untuk menentukan jalan hidupku sendiri.
Sebentar lagi aku akan merayakan 1 tahun hubunganku dengan dia yang telah membuatku berfikir that he is the one. Tapi again jodoh di tangan Tuhan. Aku yang berusaha, biar Tuhan yang mengantarkanku ke pelaminan dengan siapapun yg dianggap-Nya baik.
So mohon doanya ya guys...
"Jodoh, rezeki, maut di tangan Tuhan" sepertinya benar adanya. Diusiaku yang saat ini sudah mendekati 30, entah sudah berapa banyak pria yang sempat dekat, akrab, pacaran, bahkan orangtua sudah saling bertemu. Tapi memang kalau tidak jodoh ya mau bilang apa?
Meskipun sejak awal semua sudah diniatkan untuk serius tetap saja kandas. Bahkan yang sudah 6 tahun pun tidak cukup kuat membuatku bertahan sampai ke pernikahan. Akulah yang paling bertanggung jawab atas berakhirnya hubungan-hubunganku sebelumnya. Meskipun pemicunya bukan aku, tapi aku yang selalu mengambil keputusan untuk mengakhiri. Entah karena sudah kehilangan "rasa", perilaku ex yang temperamental, tidak melihat keseriusan si doi dan lain-lain. Semua hal-hal diatas memaksaku untuk bersikap tegas dan berhenti "membuang waktu".
Aku bukan tipikal wanita yang takut tidak menikah, ketika semua teman sebaya panik karena sudah mendekati 30 dan belum menikah. Aku justru menikmati setiap detik yang kuhabiskan dalam proses pencarian Mr.Right. Belum lagi karena ajaran agamaku menganut pernikahan 1x seumur hidup, aku tidak mau menyesal karena telah salah memilih. Aku tidak mau menikah karena dikejar-kejar usia, tidak juga karena paksaan orangtua atau menghindari omongan orang. Aku mau menikah hanya jika aku telah menemukan dia yang dapat membuatku yakin untuk menghabiskan sisa hidupku dengannya. Persetan omongan orang diluar sana. Jika aku menikah dan tidak bahagia, apakah mereka akan ikut bertanggung jawab?
Sebetulnya orangtuaku sempat ikut-ikutan panik dengan kondisiku, dan beberapa kali terbawa dengan omongan orang. Tapi terakhir kali aku ingat betul apa yang aku ucapkan kepada mama karena terus memaksaku. "Ma, aku tidak peduli berapa banyak orang di luar sana yang membicarakan aku, selama keluarga ini mengerti kondisiku aku akan baik-baik saja. Kalianlah yang paling tahu seberapa keras aku berusaha, so please berhenti memaksaku seperti orang lain yang tidak mengenalku", aku ingat aku hampir menangis ketika mengatakannya. Setelah hari itu mama sudah tidak pernah lagi menanyakan hal yang sama. Aku kembali ke diriku yang tidak suka dipaksa dan memilih untuk menentukan jalan hidupku sendiri.
Sebentar lagi aku akan merayakan 1 tahun hubunganku dengan dia yang telah membuatku berfikir that he is the one. Tapi again jodoh di tangan Tuhan. Aku yang berusaha, biar Tuhan yang mengantarkanku ke pelaminan dengan siapapun yg dianggap-Nya baik.
So mohon doanya ya guys...
Subscribe to:
Posts (Atom)

